17 September 2008
Iklan SBY Pakai Pidato Soekarno untuk Jawab Kekhawatiran
Jakarta - Partai Demokrat (PD) mulai melakukan kampanye untuk menghadapi Pemilu 2009. Tentu saja wajah SBY dipasang dalam iklan tersebut. Salah satu materi iklannya mengutip pidato Presiden Soekarno.
Iklan yang dimuat oleh Kompas, Selasa (19/8/2008) ini, memakan setengah halaman muka bolak-balik. Istilah iklan jenis itu adalah flap-ads. Salah satu materi iklan PD tersebut memuat Pidato Kenegaraan Presiden Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1957 silam.
Pidato presiden pertama RI ini berisi tentang keprihatinannya terhadap kondisi bangsa. "Akan tenggalamkah kita, saudara-saudaraku? Akankah Indonesia mulai runtuh dan ambruk?" bunyi sebagian pidato tersebut.
Di bagian bawah pidato Soekarno itu, terdapat kata "Tidak" dengan ukuran besar. Selanjutnya, pidato SBY pada 16 Agustus 2007 diletakkan tepat di bawahnya. SBY dalam pidatonya itu menegaskan kalau Indonesia saat ini masih tetap berdiri.
"Hari ini, kita bersama-sama menyaksikan negara kita, Indonesia masih tetap tegak berdiri dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote..." demikian pidato SBY.
Fox Indonesia yang dipercaya PD untuk menggarap iklan tersebut menjelaskan kalau pidato Soekarno saat itu terjadi saat Indonesia sedang bergejolak hebat. Tidak sedikit pihak yang percaya kalau Indonesia akan terpecah belah karena banyaknya konflik yang bermunculan pasca kemerdekaan.
"Makanya Soekarno bertanya kepada rakyatnya, apakah negara ini akan tenggelam," kata CEO Fox Indonesia Choel Mallarangeng kepada detikcom, Selasa (19/8/2008).
Pidato SBY dianggap Choel untuk menjawab kekhawatiran akan terjadi perpecahan pada bangsa Indonesia. "Pidato itu untuk menjawab kekhawatiran rakyat," tegasnya.
Choel menilai, kondisi bangsa Indonesia saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan masa sebelumnya. Bagi adik kandung Rizal Mallarangeng ini, tidak ada presiden Indonesia yang benar-benar mampu menyelesaikan persoalan bangsa selain SBY.
"Lihat di Aceh, Poso, Papua, konflik sudah reda semua," katanya.(mok/nrl)
DetikNews, Selasa, 19/08/2008 14:30 WIB
Soekarno

Ir. Soekarno1 (6 Juni 1901 - 21 Juni 1970) adalah Presiden Indonesia pertama yang menjabat pada periode 1945 - 1966. Ia memainkan peranan penting untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda. Ia adalah penggali Pancasila. Ia adalah Proklamator Kemerdekaan Indonesia (bersama dengan Mohammad Hatta) yang terjadi pada tanggal 17 Agustus 1945.
Ia menerbitkan Surat Perintah 11 Maret 1966 Supersemar yang kontroversial itu, yang konon, antara lain isinya adalah menugaskan Letnan Jenderal Soeharto untuk mengamankan dan menjaga kewibawaannya. Tetapi Supersemar tersebut disalahgunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto untuk merongrong kewibawaannya dengan jalan menuduhnya ikut mendalangi Gerakan 30 September. Tuduhan itu menyebabkan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang anggotanya telah diganti dengan orang yang pro Soeharto, mengalihkan kepresidenan kepada Soeharto.
Latar belakang dan pendidikan
Soekarno dilahirkan dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ayahnya bernama Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru di Surabaya, Jawa. Ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai berasal dari Buleleng, Bali [1].
Ketika kecil Soekarno tinggal bersama kakeknya di Tulungagung, Jawa Timur. Pada usia 14 tahun, seorang kawan bapaknya yang bernama Oemar Said Tjokroaminoto mengajak Soekarno tinggal di Surabaya dan disekolahkan ke Hoogere Burger School (H.B.S.) di sana sambil mengaji di tempat Tjokroaminoto. Di Surabaya, Soekarno banyak bertemu dengan para pemimpin Sarekat Islam, organisasi yang dipimpin Tjokroaminoto saat itu. Soekarno kemudian bergabung dengan organisasi Jong Java (Pemuda Jawa).
Tamat H.B.S. tahun 1920, Soekarno melanjutkan ke Technische Hoge School (sekarang ITB) di Bandung, dan tamat pada tahun 1925. Saat di Bandung, Soekarno berinteraksi dengan Tjipto Mangunkusumo dan Dr. Douwes Dekker, yang saat itu merupakan pemimpin organisasi National Indische Partij.
Keluarga Soekarno
Istri Soekarno
* Oetari
* Inggit Garnasih
* Fatmawati
* Hartini
* Ratna Sari Dewi Soekarno (nama asli: Naoko Nemoto)
* Haryati
Putra-putri Soekarno
* Guruh Soekarnoputra
* Megawati Soekarnoputri, Presiden Indonesia masa jabatan 2001-2004
* Guntur Soekarnoputra
* Rachmawati
* Sukmawati
* Taufan dan Bayu (dari istri Hartini)
* Kartika Sari Dewi Soekarno (dari istri Ratna Sari Dewi Soekarno)
Masa pergerakan nasional
Pada tahun 1926, Soekarno mendirikan Algemene Studie Club di Bandung. Organisasi ini menjadi cikal bakal Partai Nasional Indonesia yang didirikan pada tahun 1927. Aktivitas Soekarno di PNI menyebabkannya ditangkap Belanda pada bulan Desember 1929, dan memunculkan pledoinya yang fenomenal: Indonesia Menggugat, hingga dibebaskan kembali pada tanggal 31 Desember 1931.
Pada bulan Juli 1932, Soekarno bergabung dengan Partai Indonesia (Partindo), yang merupakan pecahan dari PNI. Soekarno kembali ditangkap pada bulan Agustus 1933, dan diasingkan ke Flores. Di sini, Soekarno hampir dilupakan oleh tokoh-tokoh nasional. Namun semangatnya tetap membara seperti tersirat dalam setiap suratnya kepada seorang Guru Persatuan Islam bernama Ahmad Hassan.
Masa penjajahan Jepang
Pada awal masa penjajahan Jepang (1942-1945), pemerintah Jepang sempat tidak memperhatikan tokoh-tokoh pergerakan Indonesia terutama untuk "mengamankan" keberadaannya di Indonesia. Ini terlihat pada Gerakan 3A dengan tokohnya Shimizu dan Mr. Syamsuddin yang kurang begitu populer.
Namun akhirnya, pemerintahan pendudukan Jepang memperhatikan dan sekaligus memanfaatkan tokoh tokoh Indonesia seperti Soekarno, Mohammad Hatta dan lain-lain dalam setiap organisasi-organisasi dan lembaga lembaga untuk menarik hati penduduk Indonesia. Disebutkan dalam berbagai organisasi seperti Jawa Hokokai, Pusat Tenaga Rakyat (Putera), BPUPKI dan PPKI, tokoh tokoh seperti Soekarno, Hatta, Ki Hajar Dewantara, K.H Mas Mansyur dan lain lainnya disebut-sebut dan terlihat begitu aktif. Dan akhirnya tokoh-tokoh nasional bekerjasama dengan pemerintah pendudukan Jepang untuk mencapai kemerdekaan Indonesia, meski ada pula yang melakukan gerakan bawah tanah seperti Sutan Syahrir dan Amir Sjarifuddin karena menganggap Jepang adalah fasis yang berbahaya.
Presiden Soekarno sendiri, saat pidato pembukaan menjelang pembacaan teks proklamasi kemerdekaan, mengatakan bahwa meski sebenarnya kita bekerjasama dengan Jepang sebenarnya kita percaya dan yakin serta mengandalkan kekuatan sendiri.
Ia aktif dalam usaha persiapan kemerdekaan Indonesia, diantaranya adalah merumuskan Pancasila, UUD 1945 dan dasar dasar pemerintahan Indonesia termasuk merumuskan naskah proklamasi Kemerdekaan. Ia sempat dibujuk untuk menyingkir ke Rengasdengklok Peristiwa Rengasdengklok.
Pada tahun 1943, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundang tokoh Indonesia yakni Soekarno, Mohammad Hatta dan Ki Bagoes Hadikoesoemo ke Jepang dan diterima langsung oleh Kaisar Hirohito. Bahkan kaisar memberikan Bintang kekaisaran (Ratna Suci) kepada tiga tokoh Indonesia tersebut. Penganugerahan Bintang itu membuat pemerintahan pendudukan Jepang terkejut, karena hal itu berarti bahwa ketiga tokoh Indonesia itu dianggap keluarga Kaisar Jepang sendiri. Pada bulan Agustus 1945, ia diundang oleh Marsekal Terauchi, pimpinan Angkatan Darat wilayah Asia Tenggara di Dalat Vietnam yang kemudian menyatakan bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah urusan rakyat Indonesia sendiri.
Namun keterlibatannya dalam badan-badan organisasi bentukan Jepang membuat Soekarno dituduh oleh Belanda bekerja sama dengan Jepang,antara lain dalam kasus romusha.
Masa Perang Revolusi
Soekarno bersama tokoh-tokoh nasional mulai mempersiapkan diri menjelang Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Setelah sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI,Panitia Kecil yang terdiri dari delapan orang (resmi), Panitia Kecil yang terdiri dari sembilan orang/Panitia Sembilan (yang menghasilkan Piagam Jakarta) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia PPKI, Soekarno-Hatta mendirikan Negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Setelah menemui Marsekal Terauchi di Dalat, Vietnam, terjadilah Peristiwa Rengasdengklok pada tanggal 16 Agustus 1945; Soekarno dan Mohammad Hatta dibujuk oleh para pemuda untuk menyingkir ke asrama pasukan Pembela Tanah Air Peta Rengasdengklok. Tokoh pemuda yang membujuk antara lain Soekarni, Wikana, Singgih serta Chairul Saleh. Para pemuda menuntut agar Soekarno dan Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia, karena di Indonesia terjadi kevakuman kekuasaan. Ini disebabkan karena Jepang sudah menyerah dan pasukan Sekutu belum tiba. Namun Soekarno, Hatta dan para tokoh menolak dengan alasan menunggu kejelasan mengenai penyerahan Jepang. Alasan lain yang berkembang adalah Soekarno menetapkan moment tepat untuk kemerdekaan Republik Indonesia yakni dipilihnya tanggal 17 Agustus 1945 saat itu bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan, bulan suci kaum muslim yang diyakini merupakan tanggal turunnya wahyu pertama kaum muslimin kepada Nabi Muhammad SAW yakni Al Qur-an. Pada tanggal 18 Agustus 1945, Soekarno dan Mohammad Hatta diangkat oleh PPKI menjadi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Pada tanggal 29 Agustus 1945 pengangkatan menjadi presiden dan wakil presiden dikukuhkan oleh KNIP.Pada tanggal 19 September 1945 kewibawaan Soekarno dapat menyelesaikan tanpa pertumpahan darah peristiwa Lapangan Ikada dimana 200.000 rakyat Jakarta akan bentrok dengan pasukan Jepang yang masih bersenjata lengkap.
Pada saat kedatangan Sekutu (AFNEI) yang dipimpin oleh Letjen. Sir Phillip Christison, Christison akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia secara de facto setelah mengadakan pertemuan dengan Presiden Soekarno. Presiden Soekarno juga berusaha menyelesaikan krisis di Surabaya. Namun akibat provokasi yang dilancarkan pasukan NICA (Belanda) yang membonceng Sekutu. (dibawah Inggris) meledaklah Peristiwa 10 November 1945 di Surabaya dan gugurnya Brigadir Jendral A.W.S Mallaby.
Karena banyak provokasi di Jakarta pada waktu itu, Presiden Soekarno akhirnya memindahkan Ibukota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Diikuti wakil presiden dan pejabat tinggi negara lainnya.
Kedudukan Presiden Soekarno menurut UUD 1945 adalah kedudukan Presiden selaku kepala pemerintahan dan kepala negara (presidensiil/single executive). Selama revolusi kemerdekaan,sistem pemerintahan berubah menjadi semi-presidensiil/double executive. Presiden Soekarno sebagai Kepala Negara dan Sutan Syahrir sebagai Perdana Menteri/Kepala Pemerintahan. Hal itu terjadi karena adanya maklumat wakil presiden No X, dan maklumat pemerintah bulan November 1945 tentang partai politik. Hal ini ditempuh agar Republik Indonesia dianggap negara yang lebih demokratis.
Meski sistem pemerintahan berubah, pada saat revolusi kemerdekaan, kedudukan Presiden Soekarno tetap paling penting, terutama dalam menghadapi Peristiwa Madiun 1948 serta saat Agresi Militer Belanda II yang menyebabkan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan sejumlah pejabat tinggi negara ditahan Belanda. Meskipun sudah ada Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) dengan ketua Sjafruddin Prawiranegara, tetapi pada kenyataannya dunia internasional dan situasi dalam negeri tetap mengakui bahwa Soekarno-Hatta adalah pemimpin Indonesia yang sesungguhnya, hanya kebijakannya yang dapat menyelesaikan sengketa Indonesia-Belanda.
Masa kemerdekaan
Setelah Pengakuan Kedaulatan (Pemerintah Belanda menyebutkan sebagai Penyerahan Kedaulatan), Presiden Soekarno diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dan Mohammad Hatta diangkat sebagai perdana menteri RIS. Jabatan Presiden Republik Indonesia diserahkan kepada Mr Assaat, yang kemudian dikenal sebagai RI Jawa-Yogya. Namun karena tuntutan dari seluruh rakyat Indonesia yang ingin kembali ke negara kesatuan, maka pada tanggal 17 Agustus 1950, RIS kembali berubah menjadi Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menjadi Presiden RI. Mandat Mr Assaat sebagai pemangku jabatan Presiden RI diserahkan kembali kepada Ir. Soekarno. Resminya kedudukan Presiden Soekarno adalah presiden konstitusional, tetapi pada kenyataannya kebijakan pemerintah dilakukan setelah berkonsultasi dengannya.
Mitos Dwitunggal Soekarno-Hatta cukup populer dan lebih kuat dikalangan rakyat dibandingkan terhadap kepala pemerintahan yakni perdana menteri. Jatuh bangunnya kabinet yang terkenal sebagai "kabinet semumur jagung" membuat Presiden Soekarno kurang mempercayai sistem multipartai, bahkan menyebutnya sebagai "penyakit kepartaian". Tak jarang, ia juga ikut turun tangan menengahi konflik-konflik di tubuh militer yang juga berimbas pada jatuh bangunnya kabinet. Seperti peristiwa 17 Oktober 1952 dan Peristiwa di kalangan Angkatan Udara.
Presiden Soekarno juga banyak memberikan gagasan-gagasan di dunia Internasional. Keprihatinannya terhadap nasib bangsa Asia-Afrika, masih belum merdeka, belum mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri, menyebabkan presiden Soekarno, pada tahun 1955, mengambil inisiatif untuk mengadakan Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang menghasilkan Dasa Sila. Bandung dikenal sebagai Ibu Kota Asia-Afrika. Ketimpangan dan konflik akibat "bom waktu" yang ditinggalkan negara-negara barat yang dicap masih mementingkan imperialisme dan kolonialisme, ketimpangan dan kekhawatiran akan munculnya perang nuklir yang merubah peradaban, ketidakadilan badan-badan dunia internasional dalam pemecahan konflik juga menjadi perhatiannya. Bersama Presiden Josip Broz Tito (Yugoslavia), Gamal Abdel Nasser (Mesir), Mohammad Ali Jinnah (Pakistan), U Nu, (Birma) dan Jawaharlal Nehru (India) ia mengadakan Konferensi Asia Afrika yang membuahkan Gerakan Non Blok. Berkat jasanya itu, banyak negara-negara Asia Afrika yang memperoleh kemerdekaannya. Namun sayangnya, masih banyak pula yang mengalami konflik berkepanjangan sampai saat ini karena ketidakadilan dalam pemecahan masalah, yang masih dikuasai negara-negara kuat atau adikuasa. Berkat jasa ini pula, banyak penduduk dari kawasan Asia Afrika yang tidak lupa akan Soekarno bila ingat atau mengenal akan Indonesia.
Guna menjalankan politik luar negeri yang bebas-aktif dalam dunia internasional, Presiden Soekarno mengunjungi berbagai negara dan bertemu dengan pemimpin-pemimpin negara. Di antaranya adalah Nikita Khruschev (Uni Soviet), John Fitzgerald Kennedy (Amerika Serikat), Fidel Castro (Kuba), Mao Tse Tung (RRT).
Masa-masa kejatuhan Soekarno dimulai sejak ia "bercerai" dengan Wakil Presiden Moh. Hatta, pada tahun 1956, akibat pengunduran diri Hatta dari kancah perpolitikan Indonesia. Ditambah dengan sejumlah pemberontakan separatis yang terjadi di seluruh pelosok Indonesia, dan puncaknya, pemberontakan G 30 S, membuat Soekarno di dalam masa jabatannya tidak dapat "memenuhi" cita-cita bangsa Indonesia yang makmur dan sejahtera.
Sakit hingga meninggal
Soekarno sendiri wafat pada tanggal 21 Juni 1970 di Wisma Yaso, Jakarta, setelah mengalami pengucilan oleh penggantinya Soeharto. Jenazahnya dikebumikan di Kota Blitar, Jawa Timur, dan kini menjadi ikon kota tersebut, karena setiap tahunnya dikunjungi ratusan ribu hingga jutaan wisatawan dari seluruh penjuru dunia. Terutama pada saat penyelenggaraan Haul Bung Karno.
Peninggalan
Pada tanggal 19 Juni 2008, Pemerintah Kuba menerbitkan perangko yang bergambar Soekarno dan presiden Kuba Fidel Castro.[2] Penerbitan itu bersamaan dengan ulang tahun ke-80 Fidel Castro dan peringatan "kunjungan Presiden Indonesia, Soekarno, ke Kuba".
Penamaan
Nama lengkap Soekarno ketika lahir adalah Kusno Sosrodihardjo.[3] Ketika masih kecil, karena sering sakit-sakitan, menurut kebiasaan orang Jawa[rujukan?]; oleh orang tuanya namanya diganti menjadi Soekarno[rujukan?]. Di kemudian hari ketika menjadi Presiden R.I., ejaan nama Soekarno diganti olehnya sendiri menjadi Sukarno karena menurutnya nama tersebut menggunakan ejaan penjajah (Belanda)[rujukan?]. Ia tetap menggunakan nama Soekarno dalam tanda tangannya karena tanda tangan tersebut adalah tanda tangan yang tercantum dalam Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang tidak boleh diubah[rujukan?].
Catatan kaki
1. ^ http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id/biography/index.asp?presiden=sukarno
2. ^ ROY. "Kuba Terbitkan Perangko Bung Karno dan Fidel Castro", Kompas Cyber Media, 3 Juni 2008. Diakses pada 3 Juni 2008.
3. ^ Profil Tokoh: Ir. Soekarno. bangfauzi.com. URL diakses pada 3 Juni 2008
4. ^ Adams, Cindy. 1965. Sukarno, an autobiography as told to Cindy Adams. New York:The Bobs Merryl Company Inc.
Daftar pustaka
* (id) Dr. Syafiq A. Mughnie,M.A.,PhD. Hassan Bandung, Pemikir Islam Radikal. PT. Bina Ilmu, 1994, pp 110-111.
* (en) Leslie H. Palmier. Sukarno, the Nationalist. Pacific Affairs, vol. 30, No, 2 (Jun. 1957), pp 101-119.
* (en) Bob Hering, 2001, Soekarno, architect of a nation, 1901-1970, KIT Publishers Amsterdam, ISBN 90-6832-510-8, KITLV Leiden, ISBN 90-6718-178-1
* (nl) Lambert J. Giebels, 1999, Soekarno. Nederlandsch onderdaan. Biografie 1901-1950. Deel I, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam, ISBN 90-351-2114-7
* (nl) Lambert J. Giebels, 2001, Soekarno. President, 1950-1970, Deel II, uitgeverij Bert Bakker Amsterdam, ISBN 90-351-2294-1 geb., ISBN 90-351-2325-5 pbk.
* (nl) Lambert J. Giebels, 2005, De stille genocide: de fatale gebeurtenissen rond de val van de Indonesische president Soekarno, ISBN 90-351-2871-0
16 September 2008
Misteri Supriyadi: Soekarno Tidak Beri Restu Pemberontakan PETA
Jakarta - Dalam bukunya Andaryoko Wisnuprobo yang mengaku dirinya Supriyadi mengatakan pergi ke Jakarta begitu lolos dari Blitar. Ia minta perlindungan kepada Soekarno. Faktanya, Soekarno mengakui memang pernah bertemu dengan Supriyadi, namun itu terjadi sebelum meletusnya pemberontakan Blitar.
Ikhwal pertemuan dengan Supriyadi itu diungkapkan Bung Karno dalam bukunya Penyambung Lidah Rakyat yang ditulis Cindy Adams. Pertemuan terjadi di Ndalem Gebang, kediaman orang tua Soekarno di Blitar. Saat itu, Soekarno berkunjung untuk menjenguk ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai yang baru saja diboyong Wardoyo, kakak ipar Soekarno kembali ke Blitar dari Jakarta.
"Apa jang tidak diketahui orang sampai sekarang ialah bahwa Soekarno sendiri tersangkut dalam pemberontakan ini. Bagi orang Djepang maka pemberontakan PETA merupakan suatu peristiwa jang tidak diduga sama sekali. Akan tetapi bagi Soekarno tidak. Aku telah mengetahui sebelumnya. Ingatlah bahwa rumahku di Blitar," kenang Soekarno pada halaman 290.
Peran Soekarno itu dimulai dengan kedatangan sekelompok pemuda yang dipimpin Shudanco Supriyadi ke Ndalem Gebang. Mereka mendatangi Soekarno karena kapasitasnya sebagai tokoh nasional dan juga pemimpin PUTERA (Pusat Tenaga Rakyat), sebuah lembaga propaganda nasional untuk memobilisasi dukungan pribumi kepada Jepang.
Kedatangan Supriyadi ini dijelaskan di halaman 291. "Beberapa orang perwira PETA datang kepadaku. Para perwira ini mempersoalkan maksud mereka hendak mengadakan pemberontakan. Kami baru mulai merencanakan (kata Supriyadi). Mereka menyampaikan dengan kepercayaan penuh. Akan tetapi kami ingin mengetahui pendapat Bung Karno sendiri (kata Supriyadi)."
Saat itu, Soekarno mencoba meredam kegelisahan para pemuda PETA tersebut. Soekarno yakin dalam waktu dekat kemerdekaan yang dijanjikan oleh Jepang akan segera datang. Pendek kata, Soekarno meminta mereka bersabar menunggu hasil perjuangan lewat jalur kooperatif dan tidak memilih jalur perjuangan bersenjata.
Namun sejarah toh akhirnya menumpahkan tintanya. Supriyadi dan 5 rekannya, Shudanco Moeradi, Shudanco Soeparjono, Bundanco Halir Mangkoedjidjaja, Bundanco Soenanto dan Cudanco dr Ismangil dalam rapat terakhir di kamar Halir, 13 Februari 1945 memutuskan melakukan pemberontakan keesokan harinya, 14 Ferbruari 1945. Dan pecahlah pemberontakan PETA Blitar.(tbs/iy)
DetikNews, Selasa, 12/08/2008 11:04 WIB
15 September 2008
Sekelumit Isi Sukarno File

Nurul Hidayati - detikNews
Jakarta - Sukarno sendirilah yang merancang perkomplotan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat dan bahkan membantu dan mendorongnya. Baginya, para perwira itu bersikap terlalu mau jalan sendiri dan terlalu anti-komunis.
Sukarno sendirilah yang memberikan lampu hijau pada sejumlah perwira di lingkungannya untuk menyelesaikan masalah para perwira tinggi itu. Ia juga memberikan isyarat pada pimpinan komunis mengenai apa yang sedang dirancangkan itu, sehingga mereka menjadi tergetah.
Aduh, siapa sih yang tidak tertarik membaca penggalan rangkuman buku karya Antonie CA Dake, Sukarno File, seperti yang tertulis di halaman belakang kulit buku itu? Hanya dengan membaca potongan resume itu saja, orang-orang sudah tergerak memasukkan buku berkulit wajah Soekarno-Soeharto itu ke tas belanja.
Jadi maklum saja bila kemudian buku Sukarno File yang dilempar pada pertengahan November 2005 itu langsung ludes di pasaran.
Buku ini cukup tebal, lebih dari 500 halaman. Namun jika Anda tak punya waktu untuk membacanya, Anda bisa langsung membaca bab Rangkuman yang terletak di halaman 232-242.
Dake menilai, ontran-ontran G30S/PKI dipicu oleh usulan PKI, partai terkuat saat itu dan dekat dengan Bung Karno, untuk membentuk angkatan kelima. Angkatan jenis ini adalah dengan mempersenjatai kalangan buruh dan petani, yang juga kader PKI. Rakyat sipil itu dipersenjatai -- sesuai usulan penguasa komunis Cina -- untuk melawan Malaysia dan Inggris Raya, musuh utama saat itu. Cina bahkan siap memberi gratis senjata merek Chung puluhan ribu pucuk.
Di satu sisi, relasi Sukarno saat itu tidak mesra dengan Angkatan Bersenjata yang dimotori Angkatan Darat. Saking tidak mesranya, dia mencopot Jenderal AH Nasution dan menggantinya dengan Letjen A Yani, orang yang dirasanya lebih luwes dibandingkan Nasution, sebagai pimpinan Angkatan Bersenjata.
Angkatan Kelima ini penting bagi Bung Karno untuk meningkatkan kewibawaannya terhadap militer yang sangat kuat kala itu. Sedangkan PKI berkepentingan pada pembentukan Angkatan Kelima ini agar memiliki pasukan bersenjata, menyaingi Angkatan Bersenjata yang anti-komunis.
Namun, A Yani ternyata satu aliran dengan Nasution. Para jenderal, utamanya Angkatan Darat, menolak mendukung Sukarno untuk membentuk Angkatan Kelima. Angkatan Darat bersikeras, pembentukan milisi harus dikelola oleh pihaknya sebagai militer profesional, dan bukan oleh unsur lainnya, PKI, misalnya.
Sukarno meradang mendapat perlawanan dari para jenderal Angkatan Darat. Dia menganggap pucuk pimpinan Angkatan Darat memberontak.
"....Sukarno memutuskan untuk memulai persiapan penindakan terhadap perwira tinggi Angkatan Darat yang dianggap "tidak loyal". Maka dia pada pagi 4 Agustus (1965-red) memanggil komandan resimen pengawalnya, Brigjen Subur, dan salah satu dari komandan batalion, Letkol Untung.
Dia menerima mereka di kamar tidurnya dan mengatakan kepada keduanya bahwa ia ingin memulai suatu aksi yang tidak dispesifikasi terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat. Berdasarkan para saksi, Sukarno mengandalkan hal ini kepada Untung dan bertanya apakah ia siap untuk menjadi pemimpin. Untung kemudian menjawab ia siap untuk mengikuti apa pun perintah Presiden dengan loyal dan tak bersyarat.
Percakapan ini merupakan awal dari pekan-pekan penuh peningkatan berbagai perkembangan yang berakhir pada tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari titik balik nasib Sukarno," tulis Dake di halaman 255-256.
Di halaman 257, tepatnya di bagian Kesimpulan, Dake menulis "Ternyata Sukarno sejak waktu itu terlibat dalam proses perkomplotan, yang untuk sebagian merupakan ciptaannya sendiri. Akhirnya masalahnya meledak dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Nasution, Yani serta sejumlah jenderal Angkatan Darat lain, terlalu menghambat dirinya, demikian penilaian Sukarno, yang kemudian sampai pada kesimpulan bahwa suatu "penyelesaian" harus dicarikan.
Pertanyaan mengenai "Angkatan Kelima" memainkan peranan penting sebagai lambang di mata Sukarno akan kekerasan kepala yang tidak dapat diterima dari berbagai pemimpin Angkatan Darat."
Dake juga menulis, akhir nasib Bung Karno yang tidak mengenakkan -- meninggal dunia dalam tahanan rumah -- akibat dari megalomanianya sendiri. "Keadaan (megalomania) ini merupakan akibat langsung dari pengaruh dalam kekuasaan yang begitu besar dan luas yang diraih Sukarno di dalam dan luar negeri," tulis orang Belanda ini di bab Pendahuluan halaman 5-6. (nrl/)
DetikNews, Jumat, 02/12/2005 11:24 WIB
Sukarno

Sukarno (6 Jun 1901 - 21 Jun 1970) adalah Presiden Indonesia yang pertama (dari 1945 ke 1967). Beliau memainkan peranan penting dalam membantu negaranya mencapai kemerdekaan daripada Belanda.
Sukarno juga dikenali sebagai Ahmed Sukarno atau Soekarno. Rakyat Indonesia sering menggelarnya Bung Karno.
Latar belakang
Sukarno dilahirkan di Surabaya dalam sebuah keluarga bangsawan (ayahnya berasal daripada Jawa dan ibunya daripada Bali). Beliau menerima pendidikan awal dari sebuah sekolah berbahasa Belanda. Apabila Sukarno berada di peringkat sekolah menengah beliau bertemu dengan Tjokroaminoto, seorang teman yang akan menjadi nasionalis Indonesia pada masa akan datang. Pada tahun 1921, Sukarno melanjutkan pelajarannya di ‘’Technische Hoogeschool’’ di Bandung.
Sukarno fasih dalam beberapa bahasa terutama sekali Bahasa Belanda.
Perjuangan untuk kemerdekaan
Sukarno merupakan ketua sebuah pergerakan kemerdekaan Indonesia, Partai Nasional Indonesia yang diasaskan pada tahun 1927. Beliau ditahan oleh pihak penjajah Belanda dan dikenakan hukuman penjara selama dua tahun. Apabila beliau dilepaskan, beliau menjadi amat popular. Pada tahun 1930an, beliau dipenjara beberapa kali oleh kerajaan kolonial.
Perang Dunia II – Pendudukan Jepun
Sewaktu Perang Dunia II, walaupun Sukarno bekerjasama dengan penguasa Jepun, beliau sering meminta kemerdekaan Indonesia daripada mereka. Pada Julai 1942, Sukarno dilantik oleh Jepun untuk menjadi ketua negara jajahan mereka. Beliau juga mengetuai Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), sebuah jawatankuasa kelolaan Jepun untuk menyiapkan Indonesia untuk kemerdekaan.
Kemerdekaan awal, Pancasila
Setelah Jepun tewas di Perang Dunia II, Sukarno dan Mohammad Hatta mengisytiharkan kemerdekaan Indonesia pada 17 Ogos 1945. Lihat: Proklamasi
Visi Sukarno untuk perlembagaan Indonesian 1945 merangkumi Panca Sila. (Sanskrit - lima tiang). Falsafah politik Sukarno berlandaskan (tanpa sebarang aturan) unsur Marxism, Demokrasi dan Islam. Ini terbayang dalam Panca Sila, dalam bentuk yang dijelaskan oleh beliau pada ucapan 1 Jun 19451:
1. Kebangsaan (nasionalisme)
2. Kemanusiaan
3. Kerakyatan (demokrasi)
4. Keadilan Sosial
5. Percaya kepada Tuhan
Parlimen Indonesia, diasaskan di atas dasar perlembagaan asal (dan perubahan berikutnya), terbukti tidak dapat dikendalikan. Ini disebabkan perbezaan yang tidak dapat diselesaikan antara pelbagai sosial, politik, agama, dan puak berlainan2.
Dalam kekacauan antara pelbagai pihak dan cubaan Belanda untuk mengekalkan kawalan kolonial, tentera Belanda menawan Sukarno pada Disember 1948, tetapi terpaksa membebaskan beliau selepas gencatan senjata (ceasefire). Beliau kembali ke Jakarta pada Disember 28 1949.
Terdapat beberapa cubaan rampasan kuasa tentera terhadap Sukarno pada tahun 1956.
Dalam menegakkan orde (order), Sukarno mencanangkan apa yang disebut Demokrasi Terpimpin, di mana beliau secara bertahap mendapatkan semakin banyak kekuasaan eksekutif sementara tetap mempertahankan sebuah parlimen multi parti.
'Demokrasi Terpimpin', dan Autokrasi yang meningkat
Pada akhir masa jabatannya, Sukarno semakin bergantung kepada sokongan tentera dan PKI - Parti Komunis Indonesia.
Pada 30 November 1957, berlaku serangan bom tangan terhadap Sukarno ketika dia melawat sekolah di Jakarta. Enam kanak-kanak terbunuh dan Sukarno mengalami cedera parah. Pada Februari dia mula bertindak terhadap pemberontak PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) di Bukittingi.
Pada tahun-tahun berikutnya, beliau menguatkuasakan kawalan kerajaan terhadap penerbitan buku dan media dan menekan penduduk etnik Cina. Pada 5 Julai 1959 dia menubuhkan semula perlembagaan 1945, membubarkan Parlimen, membentuknya kepada yang disukainya dan memegang kuasa penuh sebagai Perdana Menteri. Beliau menggelar sistemnya sebagai kerajaan-melalui-perintah Manifesto Politik atau Manipol. Beliau membuang daerah semua penentang politiknya.
Pada tahun 50-an, beliau mendekatkan Indonesia dengan Komunis China Communist China yang akhirnya menjemput lebih ramai komunis Communists dalam kerajaannya. Pada masa yang sama, beliau juga memperoleh bantuan ketenteraan daripada Soviet.
Pada 1962 Sukarno memerintah serangan ke atas Irian Barat (New Guinea Belanda). Terdapat beberapa cubaan membunuh lanjut semasa dia melawat Sulawesi pada 1962. Irian Barat di bawa di bawah penguasaan Indonesia pada May 1963 di bawah Rancangan Bunker. Pada tahun yang sama pada Julai, Sukarno telah mengistiharkan dirinya sendiri sebagai Presiden Sepanjang Hayat.
Sukarno juga menentang penubuhan Malaysia yang disokong oleh British, dengan mendakwa bahawa ia merupakan "plot kolonial baru (neo-colonial plot)" untuk memelihara kepentingan British. In spite of his political overtures, Malaysia was proclaimed in September 1963. Ini mendorong kepada Konfrantasi Indonesian dan berakhirnya bantuan ketenteraan Amerika Syarikat kepada Indonesia. Sukarno withdrew Indonesia from the UN Security Council in 1965 and Malaysia took the seat. Sukarno also became increasingly ill and collapsed in public in August 9, 1965. He was secretly diagnosed with a kidney disease.
Penggulingan Sukarno
Pada pagi 1 Oktober 1965, sebilangan daripada pengawal Sukarno yang paling rapat menculik dan membunuh enam orang jeneral anti komunis. Orang tunggal yang selamat ialah Leftenan Jeneral Suharto. Krisis ini mencetuskan tindakan keras terhadap parti komunis, dan sehingga setengah juta orang "tersangka komunis" (kebanyakannya petani) dibunuh dalam panik anti komunis itu. Genggaman kuasa Sukarno diperlemah oleh krisis ini, dan akhirnya, Leftenan Jeneral Suharto yang pro-Amerika memaksakan beliau menyerahkan kuasa eksekutifnya pada 11 Mac 1966.
Terdapatnya banyak tekaan tentang siapa yang mencetuskan krisis yang menyebabkan penggulingan Sukarno. Ada yang mendakwa bahawa PKI mengarahkan pembunuhan keenam-enam jeneral itu, ada yang mengatakan Sukarno sendiri berbuat demikian, dan ada yang berpendapat bahawa Suharto yang merancangkan pembunuhan itu untuk menghapuskan pesaing-pesaing yang berpotensi untuk jawatan presiden2. Terdapat juga dakwaan bahawa Sukarno digulingkan oleh Amerika Syarikat disebabkan nasionalisme dan dasar berkecualinya.
Parlimen Indonesia melucutkan jawatan Sukarno pada 12 Mac 1967, dan beliau kemudiannya ditahan di rumah sehingga kematiannya pada 1970 sewaktu berusia 69 tahun. Megawati Sukarnoputri, bekas presiden Indonesia, adalah anak Sukarno.
Rujukan
1. Smith, Roger M (ed). Southeast Asia. Documents of Political Development and Change, Ithaca and London, 1974, pp. 174-183.
2. Robert Cribb, ‘Nation: Making Indonesia’, in Donald K. Emmerson (ed.), Indonesia Beyond Suharto: Polity, Economy, Society, Transition. Armonk, New York: M.E. Sharpe, 1999, pp.3-38
sumber: wikipedia