15 September 2008

Sekelumit Isi Sukarno File


Nurul Hidayati - detikNews
Jakarta - Sukarno sendirilah yang merancang perkomplotan terhadap para perwira tinggi Angkatan Darat dan bahkan membantu dan mendorongnya. Baginya, para perwira itu bersikap terlalu mau jalan sendiri dan terlalu anti-komunis.

Sukarno sendirilah yang memberikan lampu hijau pada sejumlah perwira di lingkungannya untuk menyelesaikan masalah para perwira tinggi itu. Ia juga memberikan isyarat pada pimpinan komunis mengenai apa yang sedang dirancangkan itu, sehingga mereka menjadi tergetah.

Aduh, siapa sih yang tidak tertarik membaca penggalan rangkuman buku karya Antonie CA Dake, Sukarno File, seperti yang tertulis di halaman belakang kulit buku itu? Hanya dengan membaca potongan resume itu saja, orang-orang sudah tergerak memasukkan buku berkulit wajah Soekarno-Soeharto itu ke tas belanja.

Jadi maklum saja bila kemudian buku Sukarno File yang dilempar pada pertengahan November 2005 itu langsung ludes di pasaran.

Buku ini cukup tebal, lebih dari 500 halaman. Namun jika Anda tak punya waktu untuk membacanya, Anda bisa langsung membaca bab Rangkuman yang terletak di halaman 232-242.

Dake menilai, ontran-ontran G30S/PKI dipicu oleh usulan PKI, partai terkuat saat itu dan dekat dengan Bung Karno, untuk membentuk angkatan kelima. Angkatan jenis ini adalah dengan mempersenjatai kalangan buruh dan petani, yang juga kader PKI. Rakyat sipil itu dipersenjatai -- sesuai usulan penguasa komunis Cina -- untuk melawan Malaysia dan Inggris Raya, musuh utama saat itu. Cina bahkan siap memberi gratis senjata merek Chung puluhan ribu pucuk.

Di satu sisi, relasi Sukarno saat itu tidak mesra dengan Angkatan Bersenjata yang dimotori Angkatan Darat. Saking tidak mesranya, dia mencopot Jenderal AH Nasution dan menggantinya dengan Letjen A Yani, orang yang dirasanya lebih luwes dibandingkan Nasution, sebagai pimpinan Angkatan Bersenjata.

Angkatan Kelima ini penting bagi Bung Karno untuk meningkatkan kewibawaannya terhadap militer yang sangat kuat kala itu. Sedangkan PKI berkepentingan pada pembentukan Angkatan Kelima ini agar memiliki pasukan bersenjata, menyaingi Angkatan Bersenjata yang anti-komunis.

Namun, A Yani ternyata satu aliran dengan Nasution. Para jenderal, utamanya Angkatan Darat, menolak mendukung Sukarno untuk membentuk Angkatan Kelima. Angkatan Darat bersikeras, pembentukan milisi harus dikelola oleh pihaknya sebagai militer profesional, dan bukan oleh unsur lainnya, PKI, misalnya.

Sukarno meradang mendapat perlawanan dari para jenderal Angkatan Darat. Dia menganggap pucuk pimpinan Angkatan Darat memberontak.

"....Sukarno memutuskan untuk memulai persiapan penindakan terhadap perwira tinggi Angkatan Darat yang dianggap "tidak loyal". Maka dia pada pagi 4 Agustus (1965-red) memanggil komandan resimen pengawalnya, Brigjen Subur, dan salah satu dari komandan batalion, Letkol Untung.

Dia menerima mereka di kamar tidurnya dan mengatakan kepada keduanya bahwa ia ingin memulai suatu aksi yang tidak dispesifikasi terhadap sejumlah jenderal Angkatan Darat. Berdasarkan para saksi, Sukarno mengandalkan hal ini kepada Untung dan bertanya apakah ia siap untuk menjadi pemimpin. Untung kemudian menjawab ia siap untuk mengikuti apa pun perintah Presiden dengan loyal dan tak bersyarat.

Percakapan ini merupakan awal dari pekan-pekan penuh peningkatan berbagai perkembangan yang berakhir pada tanggal 1 Oktober, yang merupakan hari titik balik nasib Sukarno," tulis Dake di halaman 255-256.

Di halaman 257, tepatnya di bagian Kesimpulan, Dake menulis "Ternyata Sukarno sejak waktu itu terlibat dalam proses perkomplotan, yang untuk sebagian merupakan ciptaannya sendiri. Akhirnya masalahnya meledak dalam peristiwa yang terjadi pada tanggal 1 Oktober 1965. Nasution, Yani serta sejumlah jenderal Angkatan Darat lain, terlalu menghambat dirinya, demikian penilaian Sukarno, yang kemudian sampai pada kesimpulan bahwa suatu "penyelesaian" harus dicarikan.

Pertanyaan mengenai "Angkatan Kelima" memainkan peranan penting sebagai lambang di mata Sukarno akan kekerasan kepala yang tidak dapat diterima dari berbagai pemimpin Angkatan Darat."

Dake juga menulis, akhir nasib Bung Karno yang tidak mengenakkan -- meninggal dunia dalam tahanan rumah -- akibat dari megalomanianya sendiri. "Keadaan (megalomania) ini merupakan akibat langsung dari pengaruh dalam kekuasaan yang begitu besar dan luas yang diraih Sukarno di dalam dan luar negeri," tulis orang Belanda ini di bab Pendahuluan halaman 5-6. (nrl/)

DetikNews, Jumat, 02/12/2005 11:24 WIB

Tidak ada komentar: